Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal ke dalam sistem kesiapsiagaan modern sebagai strategi utama membangun ketangguhan daerah menghadapi ancaman bencana alam yang kian dinamis. Hal tersebut disampaikan Ketua FPRB NTB, Rahmat Sabani, dalam rangka menyambut peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) Tahun 2026 yang akan dipusatkan di Mataram. Dengan mengusung tema "Siap untuk Selamat: Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana," peringatan tahun ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor atau pentahelix.
Rahmat mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat secara geografis terletak dalam kawasan cincin api (ring of fire) dan diapit oleh lempeng tektonik aktif. Kondisi ini, ditambah dengan bentang alam yang terdiri dari pegunungan, pesisir, hingga pulau-pulau kecil, menjadikan NTB sangat rentan terhadap bencana geologi maupun hidrometeorologi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, tercatat dinamika bencana yang cukup tinggi dalam lima tahun terakhir. Total kejadian selama kurun waktu 2021-2025, telah terjadi 769 kejadian bencana di wilayah NTB. Bencana tersebut berdampak pada 400 desa dan 115 kecamatan di seluruh provinsi. Mayoritas didominasi oleh banjir (302 kejadian), cuaca ekstrem (209 kejadian), tanah longsor (91 kejadian), dan banjir bandang (22 kejadian).
"Kondisi geografis kita sangat dinamis. Oleh karena itu, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang risiko bencana bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk meminimalkan dampak kerugian," ujar Rahmat.
Rahmat menekankan bahwa masyarakat NTB sebenarnya memiliki kekayaan kearifan lokal yang telah teruji secara turun-temurun dalam menghadapi situasi darurat, mulai dari sistem pengetahuan tradisional hingga praktik gotong royong.
Namun, ia menyayangkan bahwa praktik-praktik adaptif tersebut belum sepenuhnya terdokumentasi dan diintegrasikan ke dalam kebijakan kesiapsiagaan modern. "Melalui HKBN 2026, kita ingin mengangkat kembali nilai-nilai lokal ini agar bersinergi dengan teknologi. Ketangguhan masyarakat yang ideal adalah yang berbasis pada kebijakan, teknologi, namun tetap berpijak pada nilai budaya lokal yang adaptif," jelasnya.
Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan berbasis komunitas yang inklusif. Selain itu juga diharapkan mendorong kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
“ Agar bisa mewujudkan masyarakat yang tangguh dan kolaboratif di masa depan,’’ kata dosen Universitas Mataram ini.
Transformasi Digital: Aplikasi SiAGA NTB
Selain pendekatan kultural, BPBD Provinsi NTB, termasuk di dalamnya FPRB NTB juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi guna mempercepat penyebaran informasi risiko bencana. Salah satu fokus utama dalam peringatan tahun ini adalah sosialisasi platform digital Sistem Informasi Kebencanaan (SIK) dan aplikasi SiAGA NTB.
Aplikasi ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses informasi bagi masyarakat mengenai potensi ancaman di wilayah masing-masing. Target dari kegiatan ini adalah meningkatkan jumlah pengguna (user) aktif platform digital tersebut guna memastikan rantai informasi peringatan dini tersampaikan dengan cepat.
Sekretaris BPBD Provinsi NTB Ardhan Ryswari mengundang masyarakat untuk hadir pada puncak peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 dijadwalkan berlangsung tanggal 26 April 2026 di depan kantor Dinas Komunikasi dan Informatika NTB di Jalan Udayana. Kegiatan ini memanfaatkan momen kegiatan car free day sehingga diharapkan informasi kesiapsiagaan bencana bisa menjangkau lebih luas.
Kegiatan ini akan melibatkan partisipasi langsung sekitar 300 orang dengan target utama pengunjung CFD agar edukasi kebencanaan dapat menjangkau masyarakat umum secara luas. Rangkaian acara dirancang secara interaktif, meliputi pemaparan mengenai Desa Tangguh Bencana (Destana), Kelembagaan FPRB, dan Ketangguhan Pulau-Pulau Kecil. Sosialisasi mengenai Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk memastikan kesiapsiagaan menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Senam ‘Mars Tangguh’ dan sesi kuis interaktif dengan masyarakat. Pelibatan UMKM lokal di Kota Mataram sebagai bentuk dukungan terhadap ketangguhan ekonomi masyarakat.
“Kita juga merefleksikan bersama berbagai peristiwa bencana yang terjadi di NTB. Bagaimana kesiapan kita di keluarga, masyarakat dan skala lebih luas,’’ katanya
Ardhan menambahkan bahwa sebelum hari puncak, BPBD NTB dan FPRB NTB telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari koordinasi unsur pentahelix hingga kampanye masif melalui berbagai saluran media. Ia berharap melalui kegiatan ini, kesadaran kolektif untuk "Siap untuk Selamat" dapat tertanam kuat di sanubari setiap warga Nusa Tenggara Barat. Peringatan HKBN 2026 di NTB ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi menjadi tonggak sejarah baru dalam mewujudkan provinsi yang benar-benar tangguh dan mandiri dalam menghadapi bencana. (*)